Pages

Have an account?
Have an Facebook account? Log in
Have an Twitter account?
Selamat Datang di blog 4Prapanca. Trimakasih atas kunjungannya.

Kata Motivasi Semangat

Musuh yang paling berbahaya diatas dunia ini adalah penakut dan bimbang. Teman yang paling setia, hanyalah keberaniandan keyakinanyang teguh.
(Andrew Jackson)

Kamis, 12 Januari 2012

TEATER

Saat ini gua akan posting mengenai ap itu TEATER, mungkin sebagian orang sudah tau seperti apa itu teater namun dalam arti sebenernya belum selum yang mengetahui. So, gua posting ini karna gua sayang dengan para pembaca setia blog ku ini, dan berhubung gua dapat amanat (tugas) dari Bpk Guru Seni Budaya gua disekolah untuk memposting pengertian Teater dan Teater dalam pendidikan di Group CS Teater 297 di Facebook. Maka karna itu poting ini ada dan dapat dibaca oleh kamu. Dan saya harapkan berguna bagi anda. Ga usah panjang lebar kita langsung bahas soal Teater.

Tempat khusus kinerja juga dinamai oleh kata "teater" yang berasal dari Yunani Kuno θέατρον (théatron, "tempat untuk melihat ") dan θεάομαι (theáomai," melihat "," untuk menonton "," mengamati ").Teater Barat modern dalam ukuran besar berasal dari drama Yunani kuno, dari mana ia meminjam terminologi teknis, klasifikasi ke dalam genre, dan banyak temanya, karakter saham, dan elemen plot. Teater sarjana Patrice Pavis mendefinisikan sandiwara, teater bahasa, menulis panggung, dan spesifisitas dari teater sebagai ekspresi identik yang membedakan teater dari yang lain seni pertunjukkan , sastra , dan seni pada umumnya.Meskipun dapat didefinisikan secara luas untuk mencakup opera dan balet, bentuk-bentuk seni berada di luar lingkup artikel ini.


Awalnya sendiri diperkenalkan pada kultus dyonisius, awalnya sebagai ritual upacara pengorbanan domba/lembu kepada Dyonisius dan nyanyian yang digunakan pada masa itu disebut "tragedi". Dalam perkembangannya Dyonisius dewa yang berwujud hewan itu kemudian berubah menjadi manusia dan dipuja sebagai dewa anggur dan kesuburan.


Pengertian teater dibeberapa website yang saya kunjungi:

    * Teater adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, boneka, musik, tari dan lain-lain. referensi: http://id.wikipedia.org

    * Teater yaitu suatu kegiatan berekspresi yang bertolak dari alur cerita yang dipertunjukkan dengan menggunakan tubuh sebagai medium utama, sedangkan dalam proses penciptaannya digunakan unsur gerak, suara,bunyi dan rupa (wujud) yang disampaikan kepada penonton.  Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/film-and-theater-studies/2205887-pengertian-teater

    * Teater dalam pengertian luas diartikan segala hal yang dipertunjukkan didepan orang banyak baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya : mamanda , wayang, dagelan, lenong, sulap, akrobat dan sebagainya. Teater dalam pengertian khusus adalah pertunjukan lakon yang dimainkan diatas pentas dan dilihat oleh penonton. Dalam pengertian khusus ini teater dikaitakn dengan drama, yaitu kisah hidup dan kehidupan yang diceritakan dan dilakonkan diatas pentas dan ditonton oleh orang banyak. Jadi, darama merupakan bagian dari teater, karena drama adalah salah satu dari sekian jenis pertunjukkan. Dengan kata lain teater adalah pertunjukkan dan drama adalahlakon dari teater tersebut. Dengan demikian drama merupakan bagian atau salah satu unsur dari teater. sumber: http://www.scribd.com/doc/22692022/SENI-BUDAYA-TEATER (download PDF).

    * ARTI TEATER
   1. Secara etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.
   2. Dalam arti luas : Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak
   3. Dalam arti sempit : Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb. sumber: http://mbyarts.wordpress.com/2011/04/09/pengertian-seni-teater/

    * Teater (dalam bahasa Inggris Amerika biasanya teater) adalah sebuah bentuk kolaborasi seni rupayang menggunakan pemain hidup untuk menyajikan pengalaman peristiwa nyata atau membayangkan sebelum penonton tinggal di tempat tertentu. Para pemain dapat berkomunikasi pengalaman ini untuk penonton melalui kombinasi gerakan, ucapan, musik lagu, atau tarian. sumber: http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Theatre


Pengertian pribadi beberapa orang mengenai Teater :

    * Bernard Beckerman, kepala departemen drama di Universitas Hofstra, New York. Dalam bukunya, Dynamics of Drama, mendefinisikan teater sebagai "yang terjadi ketika seorang manusia atau lebih, terisolasi dalam suatu waktu/atau ruang, menghadirkan diri mereka pada orang lain." Teater bisa juga berbentuk: ketoprak, ludruk, sandiwara (radio, televisi),opera, ballet, mime, kabuki, pertunjukan boneka, tari India klasik, Kunqu, mummers play, improvisasi performance serta pantomim. sumber: http://id.wikipedia.org

    * Suzsya A, ketua teater di suatu Univ di kegiatan mahasiswa, teater mahadaya (Info tersebut didapat dari pernyataan comment Suzya A di Yahoo! Answer) , mendefinisikan teater adalah kejiwaan, dunia imajinasi, khayal seseorang. jadi, theater itu sendiri adalah seni yang dipentaskan. Dalam lakon cerita. Jenis - jenis teater, yaitu ada teater kabaret, colosal. Sejarah perkembangan theater diawali dari kegiatan romusha zaman belanda, sejak saat itulah ada kegiatan teater. Karena rakyat dulunya yang dijajah. Dan sampai saat ini kegiatan tersebut diisyaratkan dengan lakon drama yang realita. Sejak saat itu disebut teater. Unsur - unsur teater yaitu budaya dan sosial. Tokoh / Pemain teater saat ini Cornelia Agatha, Happy Salma, Ria Iarawan, Sudjewo Tejo, dll. link : http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20070720042912AAfXvqs


Teori teater

Setelah menjadi bagian penting dari budaya manusia selama lebih dari 2.500 tahun, teater telah berkembang berbagai macam yang berbeda teori dan praktek.Beberapa terkait dengan ideologi politik atau rohani, sementara yang lain murni berdasarkan "artistik" kekhawatiran. Beberapa proses fokus pada cerita, beberapa di teater sebagai acara, dan beberapa di teater sebagai katalis untuk perubahan sosial. Para filsuf Aristoteles's Poetics (c. 335 SM) adalah contoh awal-yang masih hidup dan argumen telah mempengaruhi teori-teori teater sejak itu.  Di dalamnya, ia menawarkan penjelasan tentang apa yang ia sebut "puisi" (sebuah istilah yang dalam bahasa Yunani secara harfiah berarti "membuat" dan dalam konteks ini termasuk drama - komedi, tragedi dan satir bermain serta puisi liris, puisi epik dan puji - pujian ). Dia memeriksa yang "prinsip-prinsip pertama" dan mengidentifikasi nya genre dan unsur-unsur dasar; analisis tentang tragedi merupakan inti dari diskusi. Dia berpendapat tragedi yang terdiri dari enam bagian kualitatif, yaitu (dalam urutan kepentingan) mitos atau " plot ", etos atau "karakter", dianoia atau "berpikir", Lexis atau "diksi", Melos atau "lagu", dan opsis atau "tontonan"."Meskipun Aristoteles Poetics secara universal diakui di Barat tradisi kritis, "Marvin Carlson menjelaskan," hampir setiap detail tentang pekerjaan mani telah menimbulkan pendapat yang berbeda-beda ". Penting pratisi teater dari abad ke-20 termasuk Konstantin Stanislavski, Vsevolod Meyerhold, Edward Gordon Craiq, Bertolt Brecht, Antonin Artaud, Luis de Sttau Monteiro, Joan Littlewood, Peter Brook , Jerzy Grotowsky, Augosto Boal , dan Dario Fo .

Stanislavski teater diperlakukan sebagai bentuk seni yang Otonom dari literatur dan satu di mana  penulis naskah 's kontribusi harus dihormati seperti yang hanya satu dari sebuah ensemble dari seniman kreatif. Kontribusi inovatif Nya untuk teori akting modern tetap pada inti dari mainstream barat pelatihan kinerja untuk banyak abad yang lalu. Bahwa banyak dari ajaran-nya 'sistem' dari pemain aktor tampaknya akal sehat dan jelas membuktikan keberhasilan yang hegemonik. Aktor sering menggunakan konsep-konsep dasar tanpa mengetahui bahwa mereka melakukannya.  Berkat promosi dan elaborasi oleh guru bertindak yang mantan siswa dan banyak terjemahan tulisan-tulisan teoretisnya, 'sistem' Stanislavski diperoleh kemampuan belum pernah terjadi sebelumnya untuk menyeberang batas-batas budaya dan dikembangkan jangkauan internasional, mendominasi perdebatan tentang akting di Eropa dan Amerika. Banyak aktor secara rutin menyamakan 'sistem' dengan Amerika Metode , meskipun yang terakhir secara eksklusif psikologis teknik kontras tajam dengan multivariant Stanislavski, holistik dan psikofisik pendekatan, yang membahas karakter dan aksi baik dari 'dalam ke luar' dan 'luar dalam' dan memperlakukan pikiran dan tubuh aktor sebagai bagian dari sebuah kontinum.

Teater dalam pendidikan

teater merupakan cara untuk menanamkan pendidikan karakter, dan karya sastra berupa naskah teater dapat membuat penulis dan pembaca dekat dengan kehidupan. Naskah teater yang dipentaskan dapat pula melatih kepekaan perasaan, melatih rasa simpati dan empati terhadap sesama. Sehingga bermain teater merupakan salah satu alternatif mananamkan pendidikan karakter kepada generasi bangsa (para pelajar) yang dewasa ini dinilai sangat penting.

Melalui karya sastra sering diketahui keadaan, cuplikan-cuplikan kehidupan masyarakat seperti dialami, dicermati, ditangkap, dan direka oleh pengarang. Bahkan, seringkali sebuah suasana tertentu dapat lebih dihayati dengan membaca dan mengapresiasi sebuah cerpen, novel atau sebiji sajak, atau mementaskan naskah teater daripada membaca suatu laporan penelitian yang ilmiah.

Pendidikan sastra yang merupakan ilmu humaniora harus terus diupayakan oleh guru bahasa Indonesia di sekolah. Karena ilmu sastra berperan sangat besar menanamkan nilai-nilai investasi moral masa depan dan melatih pendidikan karakter, mengingat sastra itu berbicara tentang manusia dan kemanusiaan. (sumber: http://ahsinema.blogspot.com/2011/11/pendidikan-karakter-melalui-teater.html)

(Tulisan di atas pernah dimuat di Suara Muria Suara Merdeka, di rubrik Jurnalisme Warga pada Senin, 4 Desember 20011).


Teater untuk pendidikan adalah sebuah konsep yang luas. Konsep ini pertama - tama dipopulerkan oleh para aktivis pembebasan di Amerika Latin, khususnya teolog Augusto Boal. Boal melalui teater yang dikelolanya pada dasawarsa 60-an memfungsikan teater sebagai alat pengorganisasian, mobilisasi hingga media pencerahan bagi berjuta kaum miskin dari satu perkampungan ke perkampungan lainnya. Itu sebabnya di Brasil, teater menjadi momok yangmenakutkan bagi para jendral. Menurut junta pada saat itu, rakyat yang tercerahkan akan menjadi kekuatan maha dahsyat sehingga gerakan kultural untuk pembebasan kaum tertindas perlu dihentikan Terinspirasi oleh teologi pembebasan yang dikembangkan oleh Freire, Boal mengembangkan teater untuk pembebasan. Menurut Boal, ada dua macam teater kaum tertindas, yaitu pertama, teater yang dilakukan oleh para aktor profesional dan teater yang dipraktikkan oleh mereka yang tertindas di tingkat akar rumput. Yang terakhir inilah yang disebut teater untuk pembebasan atau teater untuk pendidikan. Dalam mempraktikkan teater untuk pembebasan, menggunakan proses pematangan melalui empat tahap workshops. Tahap pertama, pelatihan gerak tubuh untuk mempertebal kepekaan seluruh indera untuk menyempitkan perbedaan antara merasakan dan menyentuh. Hal ini penting untuk mematerialkan apa yang ada di benak setiap siswa yang terlibat dalam pelatihan pementasan ke dalam gerak diatas panggung. Tahap kedua adalah bagaimana seorang aktor berlatih untuk mengucapkan bahasa tubuh dan indera yang selanjutnya dipolitisasi melalui tema-tema sosial yang dipilih yang menghasilkan repertoar - repertoar(sandiwara) yang beraneka ragam. Repertoar - repertoar tersebut disadari atau tidak seringkali mengkritisi serta mengulas teori - teoribesar, ataupun pemikiran keseharian, yang tidak perlu disampaikan oleh seorang profesor doktor. Tahap ini sangat membantu memberikan pendidikan sosial yang mencerdaskan. Baik bagi siswa yang mengikuti pelatihan itu sendiri maupun bagi penonton yang menyaksikan pementasan tersebut. Karena dalam pementasan ada proses interaksi antara pemain (aktor) kepada penonton (audience) baik secara langsung maupun tidak langsung. Tahap ketiga, bersama - sama mengeksplorasi pakem - pakem berteater yang ada untuk menciptakan ke kinian, bukan memerankan lakon - lakon yang telah ada dan dapat diubah. Disini para pekerja seni teater di tuntut untuk lebih kreatif dengan inovasi - inovasi baru yang mengacu pada kemajuan zaman. Artinya bagaimana konsep pementasan teater ini lebih bisa diterima oleh masyarakat luas, terlebih pada program pendidikan yang ada disekolah - sekolah formal yang saat ini banyak sekali perkembangan konsep pendidikan. Tahap keempat, setiap peserta workshop benar - benar menjadi pelakon, penulis scenario sekaligus sebagai Sutradara, yang mengkomunikasikan sekaligus membahas isu - isu permasalahan sosial yang ada di media massa sehingga bagi penonton teater ini lebih dikenal sebagai teater koran (newspaper theatre). Dalam tahap ini juga muncul Teater Tak Kasat Mata (Invisible Theatre) dimana teater dilakukan di ruang publik seperti di jalan raya, pasar atau terminal untuk menarik perhatian mereka yang lalu - lalang di sekitar pementasan.


Teater untuk pendidikan dapat disebut sebagai teater rakyat atau teater tradisional. Sebaliknya, teater rakyat atau teater tradisional tidak identik dengan teater untuk pendidikan. Mengapa? Sebab, teater rakyat atau teater tradisional tidak selalu berorientasi kepada pendidikan. Teater tradisional seperti ludruk, ketoprak, wayang, jaipongan, dan opera Batak yang bersifat tontonan - hiburan, misalnya: teater rakyat. Pada masa Orde Baru, wayang dan Ketoprak kerap dimanfaatkan untuk tujuan propaganda atau kampanye, misalnya Keluarga Berencana, pemberian ASI (Air Susu Ibu), dan seterusnya. Pada dasarnya, setiap bentuk teater yang berorientasi kepada suatu proses pemberdayaan (empowerment) baik yang bersifat penyadaran, mengembangkan sikap kritis, sosialisasi pengetahuan dan nilai - nilai tertentu maupun pengembangan komunitas atau persekutuan, adalah teater untuk pendidikan. Dalam konsep teater ini, penciptaan teater adalah proses saling belajar yang partisipatif. Seluruhtahapan teater, seperti penciptaan cerita atau skenario (yang tidakselalu tertulis), seleksi pemain, latihan peran, ilustrasi musik, dan sutradara dilakukan oleh komunitas. Tentu saja, tahapan-tahapan ini bukanlah proses yang lancar untuk dilalui. Terutama bagi komunitas pelajar dengan intensitas pertemuan yang rendah dan tingkat pengetahuan tentang teater yang masih nol atau sebagai pemula, untuk menemukan dan menggali gagasan yang akan di tuangkan dalam ceritabukanlah peros yang mudah karena proses ini melibatkan aspek spiritual, moral, emosional, maupun sosial karena itu memerlukan siasat tersendiri untuk sampai pada tujuan yang diharapkan. Teater memiliki pendekatan multi-dimensi sebagai suatu metode dalam pendidikan yakni pendekatan konseptual - tekstual danfigural / pelukisan. Pendekatan konseptual -  tekstual mencakuppengolahan pesan yang bertolak dari teks - teks kitab suci, cerita - cerita rakyat, mitos - mitos serta penggalian dan analisis atas realitas sosial dan pengalaman hidup yang dijalani. Sedangkan pendekatan figural mencakup aktualisasi pesan dalam cerita, seni peran maupun dekorasi. Karena pendekatan multi - dimensi ini, teater jauh lebih mampu untuk proses penyadaran, pembebasan dan mengembangkan komunitas/persekutuan. Apresiasi terhadap kehidupan, kepekaan terhadap diri dan komunitas serta daya imajinasi semakin dilebarkan dan dihidupkan.

Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/film-and-theater-studies/2205892-teater-sebagai-sarana-pendidikan/#ixzz1jFgOXVf8


Disusun oleh:
Nama: Prapanca Pandapotan Sidabutar
Account privacy
Facebook : Prapanca Sidabutar
Twitter     : 4Prapanca
Heello       : potanz_Batax , Menurutku

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Follow blog with your facebook acount!